16 February 2011

Bulan Sepi Tulisan

7 komentar
Bersama ini saya mohon maaf kepada para pembaca dan seluruh penyandang dana blog ini karena pada bulan Februari ini baru kali ini saya bisa menambahkan tulisan di blog ini. Berarti, sudah 16 hari saya tidak menulis!!!
Oleh karena itulah, bulan Februari ini (sementara) saya nobatkan sebagai Bulan Sepi Tulisan. Mengapa saya sebut sementara? Karena masih ada 12 hari lagi di bulan Februari ini. Siapa tahu, tiap hari saya bisa setor tulisan sehingga di bulan ini saya dapat menulis 13 tulisan. Jadi, bisa menyamai jumlah tulisan di bulan November.
Mengapa di bulan ini baru tanggal 16 ini saya bisa menerbitkan tulisan? Hmm..... tak tahulah. Kalau istilah yang saya dapat dari blognya bung Andy Kecakot, namanya MEMALAS.
Yang jelas, banyak peristiwa di medio pertama bulan ini. Mulai dari blog yang eror, ngurusi kendaraan jadul, pernikahan seorang sahabat, hingga terulangnya peristiwa mendadak berpulang
Tentang peristiwa yang saya sebut terakhir, setelah Kepala Dinas tempat saya bekerja, disusul Pak Adji Massaid, dan yang terakhir adalah tetangga di perumahan tempat saya tinggal.
Minggu sore, 13 Februari 2011 sekitar pukul 16.30, saat perjalanan Jatisrono--Solo untuk kembali dari mudik, ponsel saya berdering.   Karena saya sedang menyopir, saya suruh istri untuk mengangkat telepon (maklum, sopir anyaran). Saya dengar-dengarkan, istri saya ngucap innalillahi... wah... siapa yang meninggal nih, batin saya.
Setelah selesai telpon, istri bilang bahwa Pak Jamaluddin meninggal di RS Kustati. Tak percaya saya mendengarnya. Beliau kelihatan sehat!
Istri saya langsung mengajak meminggirkan mobil untuk memberi kabar warga yang lain. Saya langsung menelepon Pak RT. Ponsel Pak RT gak diangkat. Saya lalu menelepon Bu RT. Kata Bu RT, Pak RT baru mandi. Saya kabarkan peristiwa tersebut pada Bu RT. Selanjutnya saya telepon Pak Haji. Setelah mandi, Pak RT menelepon saya. Ia tak percaya. Ya.... semua tak percaya... saya, Pak Haji, dan Pak RT.
Sampai di perumahan sudah lepas maghrib, saya lihat sudah banyak orang di depan rumah Pak Djamal. Dari perbincangan yang terjadi, saat berangkat ke rumah sakit, Pak Djamal naik taksi bersama istri. Pak Djamal sempat melambaikan tangan kepada warga yang ditemuinya. Ternyata ini adalah lambaian tangannya yang terakhir.
Semoga beliau ditempatkan di tempat yang layak sesuai dengan amal baktinya di dunia. Amin!

Gambar dikutip dari penjurusaya.blogspot.com

7 Responses so far

  1. Andy MSE says:

    memalas, hehehe
    hidup yang senyatanya itu adalah offline, bukan online :-D

  2. Irawan says:

    saya setuju dengan mas andi, hidup yang nyata adalah offline, saya malah pernah posting sebulan cuma 1 artikel...

  3. Semoga almarhum berpulang dalam keadaan khusnul khotimah, membawa iman dan islamnya, amin.

    Soal postingan yang sepi, sekali berhenti memang jadi aras-arasen memulainya kembali. Tapi postingan bukanlah hal utama, masih banyak hal penting yang bisa dilakukan di dunia 'nyata'

  4. terkadang orang yang meninggal kok memberikan tanda yang kadang orang tak disadarinya ya?
    seperti melambaikan tangan seperti itu dan masih banyak contoh yang lain yang aku sering dengar.
    turut berbela sungkawa
    Bali Villas Bali Villa

  5. fizer0 says:

    selesaikan dulu yg offline, baru yg online..:D
    (*padahal sekarang malah asyik ngeblog disaat ujian...)

  6. pantesss lama ga nongol..
    ayo pak ngepost. apa kek, gambar juga gapapa.. :)

  7. Sama Pak... .Ane sibuk cari penghidupan

Leave a Reply

Terima kasih Anda telah membaca tulisan ini. Silakan memberikan komentar sebagai bentuk apresiasi Anda!