16 November 2011

Kita Sering Menyebut Seseorang Bukan dengan Nama Asli

7 komentar
Judulnya panjang, ya? Ya.. sesekali bikin judul agak panjang, biar gak monoton.. hehehe..
Oke... sesuai dengan judulnya, kita memang sering menyebut seseorang dengan sebutan yang berbeda dengan nama aslinya. Dalam bahasa Jawa, nama sebutan ini disebut parapan. Dalam bahasa Indonesia, sering kita kenal dengan istilah julukan.
Sebuah julukan tercipta dari berbagai hal, antara lain ciri-ciri fisik ataupun kebiasaan, misalnya:

  • orang yang bertumbuh pendek dijuluki Bagong, 
  • orang yang bertubuh kurus dijuluki Kisut,  
  • orang yang kurang semangat dijuluki Lelur, 
  • orang yang jarang mandi dijuluki Globot,
  • dan lain sebagainya
Namun di masa muda saya, ada yang unik dalam proses pemberian julukan. Teman-teman saya memelesetkan nama-nama untuk memberi julukan. Contohnya sebagai berikut.
  • Nama aslinya Warsito, dijuluki Ronggo. Ini diambil dari nama pujangga besar, Ronggowarsito.
  • Nama aslinya Sigit, dijuluki Rolies. Ini diambil dari nama penyanyi SI-GITo Rolies.
Ada juga yang agak rumit prosesnya. Nama aslinya Sukarman, panggilan awalnya Sukar. Lalu di-Inggriskan menjadi dificult, dijuluki fikol. Namun lama-lama julukannya berubah menjadi Paman Picollo.
Saya sendiri, waktu kuliah disebut Eko Sembako. Banyak yang cuma ikut-ikutan menyebut tanpa tahu prosesnya. Inilah prosesnya:
Saya merokok sejak mahasiswa. Karena mahasiswa kadang gak punya uang, saya beli tembakau untuk dilinting sendiri (tingwe - nglinthing dhewe). Senior saya yang bernama Warsito (yang dijuluki Wal Wil karena dianggap sering colek-colek), memulai menyebut saya dengan sebutan Eko Sembakau (plesetan dari kata tembakau)



7 Responses so far

  1. Sukadi says:

    Sudah biasa, Pak. Kalau ditempat saya di Klaten sana, nama panggilan biasa disebut aran/karapan/poyokan, kadang nama panggilan waktu kecil kebawa sampai tua, yang lebih lucu, kadang malah nama panggilan ini yang lebh dikenal ketimbang nama aslinya..

    Misalnya: Petruk, Bagong, Tugiman mBendol, Dugel, Ojek.. dan masih banyak lagi.

  2. nek artis malah seneng nek ora nganggo jeneng asli

  3. Seorang kawan punya nama Sutarman, tapi kami suka panggil Sutarboy, demi keringkasan kami cukup panggil Boy, kemudian adik-adik kelas tanpa tahu asal muasal asal panggil saja Mas Boy... .

    Ada kawan lain yang punya wajah mirip seorang menteri masa lalu, namanya Syarwan hamid, maka teman-teman memanggilnya Syarwan Hamid, dan karena Syarwan Hamid itu pada masanya adalah menteri, kawan itupun dipanggil Pak Menteri, seiring waktu, tanpa tahu asal muasalnya, adik-adik tingkatpun memanggilnya Menteri...
    .
    Kadang-kadang aneh juga ya... .

  4. setyo says:

    Parapan juga bisa dipakai untuk membedakan beberapa nama panggilan yang sama. Misalnya Eko Sembako, Eko Pruthul, dan Eko-eko yang lain. Nek nang kantor diparabi sopo lek?

  5. mayssari says:

    kalau saya p[ernah dapat parapan dikarenakan kebiasaan saya ngumpulin barang2 bekas untuk dibuat jadi mainan/hiasan jadilah saya dulu diparapi uwuh ... #gag enak banget ya?

  6. soewoeng says:

    kalo diriku dari dulu soewoeng... karena kagak punya otak alias kosong otaknya

  7. nama panggilan masa kecil saya enang,, entah bagaimana asal muasalnya, katanya sih saya sendiri yang memintanya,, tapi saya tidak mengakuinya,, hehe

Leave a Reply

Terima kasih Anda telah membaca tulisan ini. Silakan memberikan komentar sebagai bentuk apresiasi Anda!