02 May 2011

Ki Hajar Dewantara

9 komentar
Tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Mengapa 2 Mei? Karena 2 Mei adalah hari kelahiran Ki Hajar Dewantara. Berdasarkan Keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, Ki Hadjar Dewantara dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional.

Ki Hajar Dewantara Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Nama Kecilnya Suwardi Suryaningrat. Sebenarnya waktu kecil dia diberi nama R.M. Suwardi. Ia lahir dari pasangan K.P.A. Suryaningrat dan. R.A. Sandiah. Pangeran Suryaningrat yang masih keturunan Sultan Hamengku Buwono II ini memang mendambakan anak laki-laki. Tapi dia agak kecewa saat melihat kondisi fisik bayi Suwardi. Beratnya kurang dari 3 kg, perutnya buncit dan suara tangisnya terlalu lembut untuk bayi lelaki.
Melihat ini, Pangeran yang humoris ini lantas memberi paraban (nama olok-olok), Jemblung (buncit). Nama ini ditambahi oleh sahabat Pangeran Suryaningrat, Kyai Soleman, pengasuh pondok pesantren di Prambanan, dengan nama Trunogati. Tapi berlainan dengan ayahnya, Kyai Soleman lebih dalam melihat aura bayi ini. Menurutnya, Suwardi yang lembut justru nanti akan didengar orang di seluruh negeri. Sementara perut buncitnya memberi firasat kelak ia akan menyerap dan mencerna ilmu yang banyak. Bahkan setelah dewasa ia akan menjadi orang penting (Truna = pemuda; wigati = penting). Tapi oleh kalangan terdekatnya Suwardi kecil lebih populer dengan Jemblung Joyo Trunogati alias Denmas Jemblung.
Dan terbukti, Suwardi tumbuh menjadi pemuda dengan watak dan kepribadian yang dikenal orang di kemudian hari. Sahabat setianya, E.F. Eugene Dowes Dekker melukiskan pribadinya sebagai berikut, “… di dalam tubuhnya yang lemah itu bersemayamlah daya kemauan keras yang selalu dimenangkannya setiap kali ia memperjuangkan sesuatu….”

Yang unik justru bagaimana dia mengganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Sebelum Taman Siswa berdiri, Suwardi membentuk semacam kelompok diskusi yang beranggotakan tokoh-tokoh politik, budayawan, dan filsuf. Forum diskusi “Selasa Kliwonan” (karena diadakan setiap hari/malam Selasa Kliwon) ini dipimpin Ki Ageng Suryomentaram, adik Sri Sultan Hamengku Buwono VII.

Rupanya kemampuan Suwardi dalam hal ilmu keguruan dan pendidikan amat menonjol. Suatu hari R.M. Sutatmo Suryakusumo (anggota Volksraad/Boedi Oetomo) yang memimpin diskusi dengan spontan mengubah kebiasaannya memanggil Suwardi dengan sebutan Ki Ajar.

Cara ini kemudian diikuti oleh teman-teman lainnya. Ketika itu Suwardi menerima julukan tersebut sebagai kelakar semata. Tapi enam tahun kemudian, 23 Februari 1928, Suwardi secara resmi berganti nama Ki Hajar Dewantara. Bernard H.M. Viekke, penulis buku Geschiedenis van de Indischen Archiepel (1947), memberi interpretasi nama itu: “seorang guru yang berhasil menanamkan paham sinkretisme kepercayaan-kepercayaan di Jawa zaman dulu.

Dari berbagai sumber
Tulisan ini juga dimuat di RadioGGLink

9 Responses so far

  1. fizer0 says:

    wah, saya baru inget klo sabtu kemarin ternyata hari pendidikan.. (*kemana aja nih saya)

  2. Sukadi says:

    Ternyata ada sejarahnya, tak kira nama Ki Hajar adalah murni pemberian orang tuanya :)

    Selamat hari pendidikan nasional :)

  3. Kita banyak mendapat pelajaran dari ajaran Ki Hajar...

  4. sungguh sulit sekarang ini menemukan sosok semacam ki hajar dewantara, pak eko. kaum elite kita makin mabuk dalam lingkaran kekuasaan.

  5. Edi Psw says:

    Ooo... gitu ya sejarahnya Ki Hajar Dewantara.

  6. Semoga Pendidikan di negeri ini mulai bergerak, berjalan kemudian berlari mengerjar ketinggalannya...

  7. agak telat dikit tetapi tetep selamat hari pendidikan, yuk sekolah....

  8. Artikel yang menarik ...

    Saya juga ada artikel tentang Bapak Pendidikan Kita ini..
    Bisa dibaca di: http://lagu2anak.blogspot.com/2011/02/belajar-dari-ki-hajar-dewantara-bapak.html?utm_source=BP_recent

Leave a Reply

Terima kasih Anda telah membaca tulisan ini. Silakan memberikan komentar sebagai bentuk apresiasi Anda!