16 December 2011

ASEAN Para Games, Upaya Wujudkan Kesetaraan Kaum Difabel

7 komentar
Minggu ini, Kota Solo ketiban sampur  menjadi tempat penyelenggaraan even internasional tingkat ASEAN. ASEAN Para Games VI 2011, sebuah ajang pesta olahraga bagi paralympia (kaum difabel) se-ASEAN ini digelar di Kota Solo, diawali dengan Kirab Budaya Obor ASEAN Para Games pada hari Rabu, 14 Desember 2011 dan pembukaan oleh wapres Budiono pada Kamis, 15 Desember 2011. 
Asean Para Games VI akan berlangsung hingga 20 Desember pekan depan dengan diikuti 11 negara.

Kota Solo memang memiliki sejarah panjang terkait olahraga. Pekan Olah Raga pertama (15-22 Oktober 1938) terlaksana di Kota Solo. Terakhir, Kongres Luar Biasa PSSI di Solo juga berlangsung sukses. Ini agaknya menjadi salah satu alasan dipilihnya Kota Solo sebagai tuan rumah ASEAN Para Games VI 2011, selain alasan utama: Kota Solo merupakan kota pertama yang memiliki Perda yang berpihak pada kaum difabel, yaitu Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2008 tentang Kesetaraan Difabel.

Asean Para Games kali pertama digelar pada tahun 2001 di Malaysia.
Bagaimana sejarah munculnya kompetisi olahraga kaum difabel ini? Dalam situs resmi ASEAN Para Games 2011 diungkapkan sejarah kompetisi olahraga kaum difabel sebagai berikut.
Perkembangan pesat kompetisi olahraga bagi penyandang cacat tak bisa  lepas dari Sir Ludwig Guttman. Beliau adalah orang pertama yang 'ngotot' bahwa kegiatan olahraga adalah bagian penting dari terapi jiwa dan raga seorang penyandang cacat.
"Olahraga dapat mengembalikan aktivitas pikiran yang merupakan  kekuatan untuk memulihkan kepercayaan dan martabat diri di dalam  keterbatasan," ujarnya Guttman dalam sebuah wawancara radio pada 1976.
Guttman adalah seorang dokter bedah saraf di sebuah rumah sakit di  Mandeville, Inggris. Pada 1944, rumah sakit tempatnya bekerja mendapatkan banyak pasien tentara korban Perang Dunia II yang mengalami kelumpuhan akibat cedera tulang belakang.
Pada saat itu, masih berkembang 'kepercayaan' bahwa para pasien  seperti itu tidak akan mampu beraktivitas lagi untuk melanjutkan hidupnya. Bahkan banyak pasien akhirnya meninggal dunia akibat infeksi luka baring atau infeksi ginjal gara-gara terlalu lama berbaring.
Di mata Guttman, fenemona meninggalnya seorang pasien di dalam proses  rehabilitasi adalah sebuah ironi. Lebih ironis bahwa para penyandang cacat kelihangan semangat dan harapan karena tidak mendapatkan kepercayaan bahwa mereka mampu menjalani hidup di kemudian hari.
Dia kemudian melakukan revolusi terhadap program rehabilitasi.  Tujuannya adalah membuat penyandang cacat tidak sekedar mampu, melainkan produktif dan dihormati masyarakat.
Kegiatan olahraga dinilai merupakan cara termujarab merangsang pasien  penderita lumpuh bergerak. Tenis meja dan panahan menjadi menu wajib perawatan medis dan rehabilitasi penyandang lumpuh.
"Semua pasien harus rutin mengikuti panahan dan tenis meja. Aktifitas tu menjadi bagian dari fisioterapi, seperti minum obat. Dokter Guttman akan memastikan semua pasiennya melakukan itu," kenang Joan Scruton, mantan asisten Guttman.
Kompetisi pertama bagi penyandang cacat digelar pada 28 Juli 1948 di kota kecil Mandeville. Peserta ajang yang dinamai Stroke Mandeville Games itu masih 16 orang yang semuanya adalah warga negara Inggris.
Mulai 1952, baru dimulai kompetisi dengan lingkup internasional yang  ditandai dengan kesertaan tim dari Belanda. Delapan tahun kemudian popularitas kompetisi tahunan itu mencapai puncaknya.
Stoke Mandeville Games berganti nama menjadi Paralimpiade ketika  diselenggarakan di Roma. Sebanyak 400 orang atlet penyandang cedera tulang belakang, berdatangan dari 23 negara. Kompetisinya bukan lagi panahan dan tenis meja, tapi juga snooker, lempar cakram, lempar lembing, menembak, bola roda basket, berenang, dan pancalomba (panahan, renang, lembing lembing, lempar cakram dan menembak).
Sukesnya gelaran di Roma tersebut mendatangkan ilham kepada Guttmann untuk menggelar Paralimpiade setiap empat tahun sekali. Waktu dan lokasi penyelenggarannya, sebisa mungkin sama dengan Olimpiade musim panas. Namun baru pada 1988, Paralimpiade secara teratur diadakan di kota yang sama dengan Olimpiade.
Ludwig Guttmann meninggal pada tahun 1980 pada usia 80 tahun.Kegigihan dan dedikasinya untuk mengangkat martabat penyandang cacat mendapatkan banyak penghargaan, termasuk gelar Sir dari Kerajaan Inggris dan Panglima Kerajaan Inggris.
Penyelenggaraan kompetisi untuk kaum difabel memberikan dampak yang positif bagi penyetaraan kaum difabel. 

Kaum difabel yang sering juga disebut penyandang cacat, sering dipandang tidak dapat beraktivitas layaknya orang normal. kompetisi ini membuktikan kaum difabel bisa melakukan kegiatan layaknya manusia normal, termasuk berolahraga dan bertanding.

Penyelenggaraan Para Games juga berimplikasi pada penyediaan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan bagi kaum difabel. Tuan rumah harus menyediakan prasarana yang mendukung kegiatan para difabel. Dengan berkumpulnya kaum difabel, kekuranglengkapan dan ketidaksempurnaan fasilitas difabel dapat lebih terdeteksi dan terekspos sehingga dapat dijadikan referensi agar benar-benar menjadi kota layak difabel.


7 Responses so far

  1. Sukadi says:

    Semoga atlet-atlet kebanggan Indonesia bisa mempersembahkan yang terbaik.. :)

  2. sungguh mengharukan perjuangan para atlet kawasan asean dalam meraih prestasi terbaik di berbagai cabang olahraga. makin terbukti kalau saudara2 kita yang difabel pun bisa menorehkan prestasi luar biasa yang mengharumkan nama bangsa.

  3. Dwi Jo says:

    Tentu saja ini merupakan ajang yang sangat bagus untuk sahabat-sahabat kita penyandang cacat agar mereka juga dapat menunjukkan prestasi yang gemilang.

  4. Hanya berdoa smg sukses acaranya, gitu ajah :D

  5. soewoeng says:

    jadi inget solo..... kota yang bersahabat buat para penderita cacat...

  6. Farobi says:

    aku cuma bisa bantu doa, semoga menang deh,,,

  7. sayang banget bola cuma di Runner up hihihi happy blogging :D

Leave a Reply

Terima kasih Anda telah membaca tulisan ini. Silakan memberikan komentar sebagai bentuk apresiasi Anda!